MODUL 4
Prototipe Sistem Peringatan Dini Banjir untuk Antisipasi Luapan Drainase dengan STM32 Blue Pill sebagai Sarana Edukasi di Lingkungan Irigasi Limau Manis, Kota Padang
Sistem monitoring drainase berbasis STM32 Blue Pill merupakan proyek yang dirancang untuk memantau kondisi saluran drainase secara otomatis. Sistem ini bekerja dengan membaca kondisi hujan, ketinggian air, dan debit aliran air pada saluran drainase. Dengan adanya sistem ini, kondisi drainase dapat diketahui lebih cepat sehingga potensi genangan atau luapan air dapat diantisipasi.
Pada sistem ini digunakan sensor hujan FC-37 untuk mendeteksi adanya air hujan, sensor jarak laser VL53L0X V2 untuk mengukur level air, serta sensor water flow YF-S201 untuk membaca debit aliran air. Sensor VL53L0X V2 dipasang pada bagian atas pipa ukur dan diarahkan ke pelampung styrofoam yang berada di dalam pipa. Penggunaan styrofoam bertujuan agar pantulan cahaya dari sensor lebih stabil dibandingkan jika sensor langsung diarahkan ke permukaan air.
Data dari sensor akan diproses oleh STM32 Blue Pill. Hasil pembacaan ditampilkan melalui LCD 16x2 I2C, sedangkan kondisi drainase ditunjukkan melalui LED indikator dan buzzer. LED hijau menunjukkan kondisi aman, LED kuning menunjukkan kondisi waspada, dan LED merah menunjukkan kondisi bahaya atau potensi luapan. Buzzer aktif 12 V digunakan sebagai peringatan suara ketika kondisi drainase berada pada status bahaya.
Dengan adanya proyek ini, sistem monitoring drainase dapat disimulasikan dalam bentuk prototipe sederhana menggunakan pipa, air, sensor, dan mikrokontroler. Sistem ini diharapkan dapat menjadi contoh penerapan mikrokontroler pada bidang pemantauan lingkungan, khususnya untuk mendeteksi kondisi drainase secara real-time.
- Untuk merancang dan membangun sistem monitoring drainase berbasis STM32 Blue Pill.
- Untuk mendeteksi kondisi hujan menggunakan sensor hujan FC-37.
- Untuk mengukur level air pada saluran drainase menggunakan sensor jarak laser VL53L0X V2 dengan bantuan pelampung styrofoam sebagai bidang pantul.
- Untuk mengukur debit aliran air pada saluran drainase menggunakan sensor water flow YF-S201.
- Untuk menampilkan data sensor dan status drainase melalui LCD 16x2 I2C.
- Untuk memberikan indikator kondisi drainase menggunakan LED hijau, kuning, merah, dan buzzer aktif 12 V.
- Untuk membuat skenario simulasi kondisi drainase normal, waspada, bahaya, dan potensi luapan.
ALAT
- Laptop/PC
- STM32CubeIDE
- Proteus
- Multimeter/Voltmeter
- Breadboard
- Kabel
jumper
- Adaptor
12 V
- Pipa PVC atau pipa akrilik
BAHAN
- STM32
Blue Pill STM32F103C8T6
- Sensor
hujan FC-37
- Sensor
jarak laser VL53L0X V2
- Sensor
water flow YF-S201
- LCD
16x2 I2C
- LED
- Buzzer
aktif 3,3 V
- Transistor
NPN 2N2222
- Resistor
- Pelampung Styrofoam
Sistem monitoring drainase merupakan sistem yang
dirancang untuk memantau kondisi saluran air berdasarkan beberapa parameter,
yaitu kondisi hujan, ketinggian air, dan debit aliran air. Drainase berfungsi
untuk mengalirkan air hujan atau air limpasan agar tidak terjadi genangan.
Apabila hujan terjadi dalam intensitas tinggi dan aliran drainase tidak lancar,
maka ketinggian air pada saluran dapat meningkat dan menyebabkan luapan.
Pada proyek ini, sistem monitoring drainase dibuat
menggunakan STM32 Blue Pill sebagai pusat pengendali. Sistem membaca data dari
sensor hujan FC-37, sensor jarak laser VL53L0X V2, dan sensor water flow
YF-S201. Data dari sensor tersebut diproses untuk menentukan status drainase,
yaitu aman, waspada, bahaya, atau potensi luapan. Hasil pemantauan ditampilkan
melalui LCD 16x2 I2C, sedangkan indikator status ditunjukkan menggunakan LED
dan buzzer.
4.1 STM32 Blue Pill STM32F103C8T6
STM32 Blue Pill merupakan papan mikrokontroler
yang menggunakan IC STM32F103C8T6. Mikrokontroler ini digunakan sebagai pusat
pemrosesan data pada sistem. STM32 membaca masukan dari sensor, mengolah data,
kemudian mengendalikan keluaran berupa LCD, LED, dan buzzer.
Pada sistem monitoring drainase ini, STM32
berfungsi untuk membaca sensor hujan, sensor level air, dan sensor debit air.
Sensor hujan dapat dibaca melalui pin analog atau digital, sensor VL53L0X
dibaca menggunakan komunikasi I2C, sedangkan sensor YF-S201 dibaca melalui pin
digital yang menghitung pulsa. Setelah data sensor diproses, STM32 menentukan
status drainase dan mengaktifkan indikator sesuai kondisi.
STM32 memiliki fitur ADC yang dapat digunakan
untuk membaca sinyal analog. ADC pada STM32F103C8T6 memiliki resolusi 12-bit,
sehingga nilai digital yang dihasilkan berada pada rentang 0 sampai 4095. Hubungan antara tegangan masukan dan nilai
ADC dapat ditulis sebagai berikut:
4.2 Sensor Hujan FC-37
Sensor hujan FC-37 digunakan untuk mendeteksi ada
atau tidaknya air hujan pada lingkungan sekitar drainase. Sensor ini memiliki
papan pendeteksi berupa jalur konduktif. Ketika permukaan sensor kering,
hambatan antarjalur relatif besar. Ketika air mengenai permukaan sensor, air
akan menghubungkan jalur konduktif sehingga nilai keluaran sensor berubah.
Pada sistem ini, sensor hujan diletakkan di bagian
luar prototipe drainase agar dapat terkena air secara langsung. Sensor hujan
berfungsi sebagai indikator awal bahwa kondisi lingkungan sedang hujan. Data
dari sensor hujan tidak langsung menentukan bahaya, tetapi digabungkan dengan
data level air dan debit air untuk menentukan status sistem.
Secara
umum, semakin basah permukaan sensor, maka nilai analog yang terbaca akan
semakin kecil. Hubungan respons sensor hujan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Data respons sensor hujan FC-37
|
Kondisi Sensor |
Intensitas Air (%) |
Nilai ADC |
|
Kering |
0 |
4095 |
|
Sedikit basah |
25 |
3000 |
|
Basah |
50 |
2200 |
|
Sangat basah |
75 |
1400 |
|
Hujan deras |
100 |
800 |
Berdasarkan Tabel 1, grafik respons sensor hujan
berbentuk menurun. Semakin tinggi
intensitas air pada permukaan sensor, maka nilai ADC yang terbaca semakin
kecil.
Gambar 1. Grafik Respon Sensor Hujan FC-37
4.3 Sensor Jarak Laser VL53L0X V2
Sensor VL53L0X V2 merupakan sensor jarak berbasis
teknologi Time-of-Flight atau ToF. Sensor ini bekerja dengan memancarkan
cahaya laser inframerah ke objek, kemudian menghitung waktu pantulan cahaya
tersebut kembali ke sensor. Berdasarkan
waktu pantulan tersebut, sensor dapat menentukan jarak antara sensor dan objek.
Pada sistem monitoring drainase ini, sensor
VL53L0X V2 digunakan untuk mengukur level air. Sensor dipasang pada bagian atas
pipa ukur dan diarahkan ke bawah. Di dalam pipa ukur diletakkan pelampung
styrofoam sebagai bidang pantul. Penggunaan styrofoam bertujuan agar pantulan
cahaya dari sensor lebih stabil dibandingkan jika sensor diarahkan langsung ke
permukaan air.
Ketika level air naik, pelampung styrofoam ikut
naik. Akibatnya, jarak antara sensor dan styrofoam semakin kecil. Sebaliknya,
ketika level air turun, pelampung ikut turun sehingga jarak sensor terhadap
styrofoam semakin besar.
Pada prototipe ini, rentang jarak kerja yang
digunakan adalah 3 cm sampai 18 cm. Jarak 18 cm dianggap sebagai kondisi air
rendah, sedangkan jarak mendekati 3 cm menunjukkan bahwa air berada pada
kondisi sangat tinggi. Hubungan antara jarak sensor dan level air dapat
dihitung dengan persamaan:
dengan,
h: level air
H: jarak acuan saat air rendah
d: jarak sensor ke styrofoam
Grafik respons sensor VL53L0X V2 terhadap level
air berbentuk menurun. Semakin tinggi level air, maka jarak sensor terhadap
pelampung semakin kecil.
4.4 Sensor Water Flow YF-S201
Sensor water flow YF-S201 digunakan untuk mengukur
debit aliran air pada sistem drainase. Sensor ini memiliki rotor yang akan
berputar ketika air mengalir melewati sensor. Putaran rotor tersebut dideteksi
oleh sensor Hall dan diubah menjadi sinyal pulsa digital.
Semakin besar debit air yang mengalir, maka
semakin cepat rotor berputar. Akibatnya, jumlah pulsa yang dihasilkan dalam
satu detik juga semakin besar. STM32 menghitung jumlah pulsa tersebut untuk
memperoleh nilai frekuensi, kemudian frekuensi dikonversi menjadi debit air.
Frekuensi pulsa dan debut air dapat dihitung
dengan persamaan:
Keterangan:
f =
frekuensi pulsa dalam Hz
N =
jumlah pulsa yang terbaca
t =
waktu pengukuran dalam detik
Keterangan:
Q =
debit air dalam liter/menit
f =
frekuensi pulsa dalam Hz
7,5 = faktor kalibrasi sensor YF-S201
Grafik respons sensor YF-S201 berbentuk naik atau
berbanding lurus. Semakin besar debit air, maka semakin besar frekuensi pulsa
yang dihasilkan sensor.
Selain debit air, sensor YF-S201 juga dapat
digunakan untuk menghitung volume air yang telah melewati sensor. Secara umum,
sensor menghasilkan sekitar 450 pulsa untuk setiap 1 liter air. Volume air
dapat dihitung dengan persamaan:
Keterangan:
V =
volume air dalam liter
Ntotal = total
pulsa yang terbaca
450 = jumlah pulsa untuk setiap 1 liter air
4.5 LCD 16x2 I2C
LCD 16x2 I2C digunakan untuk menampilkan informasi
hasil pembacaan sensor dan status sistem. LCD ini dapat menampilkan dua baris
karakter, sehingga sesuai untuk menampilkan data sederhana seperti status
hujan, level air, debit air, dan kondisi drainase.
Penggunaan
modul I2C pada LCD bertujuan untuk mengurangi jumlah pin yang digunakan pada
mikrokontroler. Dengan komunikasi I2C, LCD hanya membutuhkan dua jalur
komunikasi utama, yaitu SDA dan SCL. Pada sistem ini, LCD digunakan untuk
menampilkan informasi seperti:
Level Air =
... cm
Debit =
... L/menit
Status =
Aman/Waspada/Bahaya
4.6 LED Indikator
LED digunakan sebagai indikator visual untuk
menunjukkan kondisi drainase. Sistem menggunakan tiga warna LED, yaitu hijau,
kuning, dan merah. LED hijau menunjukkan kondisi aman, LED kuning menunjukkan
kondisi waspada, dan LED merah menunjukkan kondisi bahaya atau potensi luapan.
Penggunaan LED bertujuan agar status sistem dapat
diketahui secara cepat tanpa harus membaca nilai sensor secara detail pada LCD.
Pembagian status LED dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Indikator LED pada sistem
|
Warna LED |
Status |
Keterangan |
|
Hijau |
Aman |
Tidak hujan, level air rendah, dan aliran normal |
|
Kuning |
Waspada |
Hujan
mulai terdeteksi atau level air mulai naik |
|
Merah |
Bahaya |
Level air tinggi |
|
Merah berkedip |
Potensi luapan |
Level air sangat tinggi dan debit rendah |
4.7 Buzzer Aktif 12 V dan Driver Transistor
Buzzer aktif 12 V digunakan sebagai alarm suara
ketika sistem mendeteksi kondisi bahaya. Karena buzzer bekerja pada tegangan 12
V, buzzer tidak dapat dihubungkan langsung ke pin STM32. Pin STM32 hanya
menghasilkan tegangan logika 3,3 V dan memiliki batas arus kecil, sehingga
diperlukan rangkaian driver.
Driver buzzer dapat dibuat menggunakan transistor
NPN seperti 2N2222. Transistor berfungsi sebagai saklar elektronik. Ketika pin
STM32 bernilai HIGH, arus kecil mengalir ke basis transistor melalui resistor.
Arus tersebut membuat transistor aktif, sehingga arus dari buzzer dapat
mengalir menuju ground.
Konfigurasi driver buzzer dapat dituliskan sebagai
berikut:
+12V → Buzzer → Collector transistor → Emitter
transistor → GND
Sementara itu, pin STM32 dihubungkan ke basis
transistor melalui resistor pembatas arus. Dengan rangkaian ini, buzzer tetap
mendapatkan tegangan 12 V, sedangkan STM32 hanya digunakan sebagai sinyal
kontrol.
4.8 Regulator Tegangan
Regulator tegangan digunakan untuk menyesuaikan
tegangan sumber dengan kebutuhan rangkaian. Pada sistem ini, adaptor 12 V
digunakan sebagai sumber utama. Tegangan 12 V digunakan untuk buzzer, sedangkan
STM32 dan sensor membutuhkan tegangan yang lebih rendah.
Oleh karena itu, digunakan regulator atau buck
converter untuk menurunkan tegangan 12 V menjadi 5 V dan 3,3 V. Tegangan 5 V
dapat digunakan untuk modul sensor tertentu dan LCD, sedangkan tegangan 3,3 V
digunakan untuk STM32 dan komunikasi logika sensor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar